Ketika Manusia Diukur dengan Angka: Psikometri dan Praktiknya di Israel
Coba bayangin satu situasi sederhana. Dua orang daftar ke universitas yang sama. Nilai sekolah mirip, sama-sama kelihatan pintar. Tapi tetap harus ada yang diterima dan ada yang ditolak. Pertanyaannya: pakai dasar apa? Dulu, jawabannya sering nggak jelas. Bisa karena rekomendasi, latar belakang sekolah, atau bahkan kesan subjektif. Di sinilah psikometri mulai punya peran. Intinya sederhana: gimana caranya menilai manusia dengan cara yang lebih objektif, bukan sekadar “feeling”. Tapi perjalanan ke titik itu nggak langsung rapi. Di akhir abad ke-19, Francis Galton mulai bereksperimen mengukur kemampuan manusia lewat hal-hal fisik, kecepatan reaksi, kekuatan, ketajaman indera. Kalau dilihat sekarang, pendekatannya memang terlalu sederhana. Tapi dari situ muncul satu ide penting: manusia bisa diukur, bukan cuma dinilai. Masuk ke awal abad ke-20, arah psikometri mulai lebih jelas. Alfred Binet dan Théodore Simon mengembangkan tes kecerdasan pertama yang benar-benar dipakai di dunia nyata. T...